konsultanpemetaan.id – Hai Sahabat Konsultan! Pernah nggak sih sahabat konsultan bayangin lagi berdiri di atas kapal survey yang terombang-ambing ombak laut, angin kencang menerpa wajah, dan tim hydrographer harus mengejar deadline pemetaan kedalaman laut sebelum badai datang? Di lapangan, situasi pemetaan batimetri sering kali penuh tantangan tak terduga. Ada momen ketika sahabat konsultan harus memilih pakai instrumen yang praktis, cepat dipasang, dan hemat anggaran, atau menggunakan instrumen canggih dengan teknologi tinggi yang sanggup memindai seluruh dasar laut secara 3D tanpa ada celah sedikit pun. Dilema lapangan inilah yang melahirkan persaingan dua teknologi utama survey hidrografi, yaitu Single Beam Echosounder (SBES) dan Multibeam Echosounder (MBES). Hasil rangkuman dari tim PT. Digital Global Eksplorasi dari pengalaman lapangan yang menyajikan pembedahan mendalam mengenai cara kerja, perbandingan teknis, hingga estimasi biaya dan contoh RAB riil di lapangan. Simak lengkapnya di bawah ini!
Cara Kerja Single Beam
Berikut ini beberapa cara kerja Single Beam:
Pancaran Gelombang Tunggal
Transduser SBES memancarkan satu sinyal gelombang suara vertikal lurus ke bawah menuju dasar air secara konstan dengan interval frekuensi tertentu (misalnya 50 kHz atau 200 kHz).
Pengukuran Waktu Tempuh
Kedalaman air dihitung berdasarkan durasi waktu yang dibutuhkan sinyal akustik untuk merambat dari transduser ke dasar laut dan memantul kembali ke permukaan.
Data Berupa Titik Tunggal
Mengingat arah gelombangnya hanya tegak lurus ke bawah, data yang terekam berbentuk titik-titik diskret sepanjang jalur pelayaran kapal.
Integrasi Posisi Horizontal & Pasang Surut
Setiap pulsa akustik yang terpancar secara otomatis disinkronkan dengan koordinat horizontal DGPS/RTK-GNSS serta koreksi elevasi air dari stasiun tide gauge (pasang surut) untuk menentukan datum vertikal (seperti LWS/LAT).
Interpolasi Celah Antar Garis Survey
Area di antara dua garis jalur survey (line spacing) tidak memiliki data riil, sehingga nilai kedalamannya diperoleh melalui metode interpolasi matematis seperti Kriging atau TIN pada tahap post-processing
Cara Kerja Multi Beam
Berikut ini beberapa cara kerja Multi Beam:
Pancaran Kipas Banyak Sinyal
Transduser MBES memancarkan ratusan sinyal gelombang suara sekaligus secara melintang membentuk pola kipas yang melebar ke sisi kiri dan kanan kapal.
Teknologi Array & Beamforming Elektromagnetik
Menggunakan kombinasi transmit dan receive array transduser yang sanggup membentuk puluhan hingga ratusan beam akustik terfokus secara bersamaan dalam satu kali pemicuan sinyal.
Integrasi Kompensator Gerak Kapal
MBES wajib terhubung dengan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) untuk mengoreksi dinamika gerak kapal secara otomatis jutaan kali per detik agar posisi beam menyamping tetap akurat.
Koreksi Kecepatan Suara Air Laut
Karakteristik temperatur dan salinitas air laut membiaskan sinyal melintang MBES. Oleh karena itu, pengukuran profil kecepatan suara wajib dilakukan berkala di lapangan untuk koreksi refraksi akustik.
Pembentukan Model 3D Densitas Tinggi
Hasil pemindaian menghasilkan jutaan titik koordinat 3D (point cloud) yang langsung membentuk gambaran relief dan tekstur permukaan dasar laut tanpa perlu ketergantungan pada interpolasi matematis.
Perbandingan Single beam dan Mlulti Beam Pada Pengukuran Batimetri
Berikut ini beberapa perbandingan Single beam dan Mlulti Beam pada pengukuran batimetri:
Cakupan Data & Resolusi Peta
Single Beam hanya menghasilkan profil kedalaman 2D berupa garis-garis survey dengan banyak area blank spot (celah kosong). Sebaliknya, Multibeam sanggup menyapu dasar laut hingga 100% full coverage dengan resolusi spasial tingkat sentimeter.
Efisiensi Waktu Operasional Kapal
Untuk area perairan yang sangat luas, Multibeam jauh lebih efisien karena lebar sapuan sekali lewat bisa mencapai 2–6 kali lipat dari kedalaman air. Single Beam membutuhkan waktu tempuh kapal yang jauh lebih lama karena jalur kapal harus dibuat sangat rapat.
Kompleksitas Perangkat & Peralatan Pendukung
Instalasi Single Beam sangat praktis cukup transduser, GPS RTK, dan echo sounder. Sementara Multibeam membutuhkan ecosystem sensor tingkat tinggi yang rumit, seperti sensor gerak IMU/MRU, gyrocompass, sensor SVP, serta dudukan khusus pada lambung kapal.
Tingkat Kesulitan Pemrosesan Data
Data Single Beam sangat ringan dan cepat dibersihkan. Sementara data Multibeam menghasilkan ukuran berkas hingga puluhan Gigabyte yang membutuhkan proses patch test (kalibrasi heading, pitch, roll), koreksi refraksi SVP, serta spesifikasi komputer super kencang.
Deteksi Rintangan & Bahaya Navigasi
Multibeam mampu mendeteksi keberadaan pipa bawah laut, kabel, tonjolan batu, hingga bangkai kapal kecil dengan sangat presisi. Single Beam memiliki risiko tinggi melewatkan objek bahaya tersebut jika lokasinya kebetulan berada di antara dua garis survey.
Estimasi Biaya Single Beam dan Multi Beam
Berikut estimasi biaya Single Beam dan Multi Beam:
| Komponen Biaya | Range Harga Single Beam | Range Harga Multi Beam | Keterangan Tambahan |
| Sewa Alat (Harian) | Rp 1.500.000 – Rp 3.000.000 | Rp 15.000.000 – Rp 30.000.000 |
Multi beam paket komplit dengan sensor Gyro, MRU, & Sound Velocity Profiler.
|
| Jasa Personnel (Harian) | Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 | Rp 2.500.000 – Rp 5.000.000 |
Multi beam butuh Data Processor dan Surveyor tersertifikasi khusus.
|
| Sewa Kapal Survei | Rp 1.500.000 – Rp 3.500.000 | Rp 3.000.000 – Rp 8.000.000 |
Kapal Multi beam harus lebih besar, stabil, dan mounting alatnya kuat.
|
| Processing Data (Lumpsum) | Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000 | Rp 15.000.000 – Rp 40.000.000 |
Data Multi beam ukurannya bergiga-giga, butuh software lisensi mahal (Teledyne/QINSy).
|
Contoh RAB Pengukuran Batimetri Single Beam dan Multi Beam
Berikut ini contoh RAB untuk proyek pemetaan batimetri seluas 100 Hektare di area pesisir/pelabuhan dengan durasi pekerjaan lapangan 3 hari kerja ditambah 2 hari mobilisasi dan processing data. ini contohnya:
RAB Pengukuran Batimetri Single Beam
| No | Uraian Pekerjaan | Vol | Satuan | Harga Satuan | Jumlah Biaya |
| A | Tenaga Ahli & Personel | ||||
| 1 | Hydrographer / Team Leader | 5 | Orang-Hari | Rp 1.500.000 | Rp 7.500.000 |
| 2 | Surveyor Hidrografi | 5 | Orang-Hari | Rp 1.000.000 | Rp 5.000.000 |
| 3 | Data Processor / Drafter | 3 | Orang-Hari | Rp 800.000 | Rp 2.400.000 |
| B | Sewa Perangkat & Instrumen | ||||
| 1 | Sewa Dual Frequency SBES System | 5 | Hari | Rp 2.500.000 | Rp 12.500.000 |
| 2 | Sewa DGPS / GNSS RTK Positioning | 5 | Hari | Rp 1.200.000 | Rp 6.000.000 |
| 3 | Sewa Automatic Water Level / Tide Gauge | 5 | Hari | Rp 500.000 | Rp 2.500.000 |
| C | Akomodasi & Operasional Lapangan | ||||
| 1 | Biaya Mobilisasi & Demobilisasi Tim + Alat | 1 | Paket | Rp 8.000.000 | Rp 8.000.000 |
| 2 | Sewa Kapal Survey Lokal + Bahan Bakar (BBM) | 3 | Hari | Rp 2.500.000 | Rp 7.500.000 |
| 3 | Uang Makan & Akomodasi Tim Lapangan | 15 | Orang-Hari | Rp 400.000 | Rp 6.000.000 |
| D | Pelaporan & Deliverables | ||||
| 1 | Pengolahan Data, Digital Elevation Model & Peta Peta Kontur | 1 | Paket | Rp 5.000.000 | Rp 5.000.000 |
|
Total Biaya
|
Rp 62.400.000 |
RAB Pengukuran Batimetri Multi Beam
| No | Uraian Pekerjaa | Vol | Satuan | Harga Satuan | Jumlah Biaya |
| A | Tenaga Ahli & Personel | ||||
| 1 | Senior Hydrographer (IHO Cat-A Certified) | 5 | Orang-Hari | Rp 3.500.000 | Rp 17.500.000 |
| 2 | Multibeam System Engineer / Specialist | 5 | Orang-Hari | Rp 2.500.000 | Rp 12.500.000 |
| 3 | Senior MBES Data Processor | 4 | Orang-Hari | Rp 2.000.000 | Rp 8.000.000 |
| B | Sewa Perangkat & Instrumen Khusus | ||||
| 1 | Sewa MBES Sensor Array System + IMU Motion Sensor | 5 | Hari | Rp 18.000.000 | Rp 90.000.000 |
| 2 | Sewa Sound Velocity Profiler (SVP) & Gyro | 5 | Hari | Rp 2.000.000 | Rp 10.000.000 |
| 3 | Software License Acquisition & Processing (CARIS/EIVA) | 1 | Paket | Rp 15.000.000 | Rp 15.000.000 |
| C | Akomodasi & Operasional Lapangan | ||||
| 1 | Biaya Mobilisasi & Demobilisasi Khusus MBES | 1 | Paket | Rp 25.000.000 | Rp 25.000.000 |
| 2 | Sewa Kapal Survey Khusus (Rigging Mount) + BBM | 3 | Hari | Rp 10.000.000 | Rp 30.000.000 |
| 3 | Kalibrasi Patch Test & Bar Check Lapangan | 1 | Paket | Rp 10.000.000 | Rp 10.000.000 |
| 4 | Uang Makan & Akomodasi Tim Lapangan | 15 | Orang-Hari | Rp 500.000 | Rp 7.500.000 |
| D | Pelaporan & Deliverables | ||||
| 1 | Pemrosesan 3D Point Cloud, DTM, & Pelaporan IHO Standard | 1 | Paket | Rp 15.000.000 | Rp 15.000.000 |
|
Total Biaya
|
Rp 240.500.000 |
Kesimpulan Perbandingan Single Beam dan Multi Beam Pada Pengukuran Batimetri
Memilih antara Single Beam dan Multibeam pada akhirnya berujung pada kebutuhan spesifik dan alokasi anggaran proyek sahabat konsultan. Jika sahabat konsultan membutuhkan survey awal, pengerukan alur sungai rutin, atau memiliki keterbatasan anggaran, Single Beam (SBES) adalah pilihan yang ramah di kantong dan cepat dieksekusi. Namun, jika proyek sahabat konsultan menuntut detail 3D presisi tinggi, inspeksi pipa/kabel laut, pembangunan dermaga utama, atau deteksi bahaya navigasi rapat, investasi pada Multibeam (MBES) jelas merupakan langkah yang paling tepat.

